14 September 2007

TEOLOGIA DAN IMAN

TEOLOGI DAN IMAN

1. PENDAHULUAN

Makalah ini mencoba untuk memberikan penjelasan mengenai apa yang menjadi bentuk keterikatan atau hubungan dari pengertian Teologi dalam ruang lingkup Iman, dengan Alkitab.yang menjadi sumbernya.
Pengertian dari kedua kata tersebut yaitu Teologi dan Iman akan kami coba jelaskan dan bagaimana antara Teologi dan Iman itu memiliki suatu keterkaitan yang begitu erat dalam mengerti Karya-karya Allah yang begitu Agung yang berakhir pada penggenapan dari karya Allah itu sendiri berupa Keselamatan yang terwujud dalam diri Yesus Kristus.
Penting kita ketahui,bahwa Teologi mula-mula bukan berasal dari agama Kristen, tetapi dari falsafah Yunani yang antara lain berusaha menyelidiki dan membahas hakekat ilahi dari dewa-dewa Yunani. Dalam hal ini Teologi berarti falsafah Agama atau pengetahuan yang rasional tentang dewa-dewa Yunani. Karena itu dalam sejarah Gereja makna atau arti dari Teologi Kristen saat itu lama sekali dipahami sebagai “Philosophia Christiana“ (= pengetahuan yang rasional tentang hakekat Allah Kristen)
[1].
Agama Kristen bukanlah puncak atau mahkota dari agama-agama yang lain. Dalam agama-agama yang lain manusia berusaha datang kepada allah (atau dewa-dewa) dengan berbagai cara dan ritual-ritual tertentu. Dalam agama Kristen bukan manusia yang datang kepada Allah, tetapi Allah yang datang kepada manusia. Hal itu Ia lakukan dalam anakNya Yesus Kristus Itu berarti bahwa tanpa karya Allah, tanpa inisiatif dari pihakNya, tidak akan mungkin ada Iman.
2. Definisi Teologi
Istilah “Teologi” cukup sulit untuk dapat didefinisikan. Kata “Teologi” berasal dari gabungan dua kata Yunani yaitu ” theos “ (Allah) dan “ logos “ (perkataan / firman / wacana / Uraian / ilmu). Jadi arti kata teologi dapat diartikan “ Wacana (ilmiah) mengenai Allah “. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Teologi itu dapat dirumuskan sebagai “ Ilmu Pengetahuan tentang Ketuhanan ( wujud Allah sifat-sifat Allah, ilmu akidah, dsb ).
Apabila dimengerti secara lebih sempit, maka teologi menunjuk pada usaha untuk meneliti iman Kristen, dari aspek doktrinnya. Teologi dapat digolongkan dalam kegiatan intelektual manusia yang disebut “ tahu “ dan “ mengetahui “. Akan tetapi berbeda dengan pengetahuan harian, pengetahuan teologi bersifat metodis, sistematis dan koheren atau bertalian.
Dalam sejarah teologi beberapa teolog dan pemikir Kristen pernah memberikan definisi-definisi teologi menurut pengertian dan konteks latar belakang mereka masing-masing. Dibawah ini adalah beberapa dari para teolog yang mencoba mendefinisikan “ Teologi “.
Menurut B.B Warfield (1851-1921) teologi adalah “Ilmu yang membicarakan tentang Allah dan hubungan antar Allah dan alam semesta”. Yang ditegaskan disini adalah teologi merupakan suatu ilmu, ia hendak menekankan fakta bahwa Allah itu ada, dan bahwa Allah yang berada itu berhubungan dengan ciptaanNya.
Menurut Shedd, “ Teologi adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan Yang Tak terbatas dan Yang terbatas, dengan Allah dan alam semesta “. Dengan pengertian ini, selain manusia dan alam yang menjadi objek penelitian, teologia terutama berupaya mengetahui tentang Allah. Namun menurutnya ini tidak berarti Allah dapat dipahami seluruhnya.
Menurut A. H. Strong, “ teologia adalah ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara Allah dan alam semesta”. Menurutnya Sains bukan hanya mengobservasi, merekam, memverifikasi serta merumuskan saja fakta-fakta tersebut, serta kemudian baik fakta-fakata tersebut maupun prinsip-prinsip rasionalnya disintesakan menjadi suatu system organis yang proporsional dan padat.
F. Schleiermacher, “ teologi sebagai usaha menganalisis pengalaman kesadaran religius, yaitu perasaan ketergantungan yang mutlak “. Maksudnya disini adalah apabila suatu pikiran yang mempunyai hubungan dengan doktrin tidak memiliki landasan dalam perasaan, maka tidaka ada pernyataan yang bias dibuat berkenaan dengan itu, atau dengan kata lain kita tidak dapat menguraikan tentang manusia, atau tentang karya Allah, apabila formula doktrinalnya tidak datang dari hasil refleksi pada kesadaran diri yang religius.
Choan-Seng Song menurutnya, definisi teologia yang sering diberikan oleh para teolog Barat adalah tidak tepat. Yang benar, teologia itu berkenaan dengan persoalan bagaimana Allah memperhatikan manusia. Urusan teologia bukanlah untuk mempersoalkan bagaimana manusia memperhatikan Allah . Dalam hal ini fokus teologinya adalah manusia
[2].
Dari pandangan – pandangan yang dipaparkan oleh para teolog-teolog diatas, maka dapat dipastikan bahwa teologi bersifat ilmiah. Akan tetapi walaupun teologi bersifat ilmiah teologi tidak termasuk dari ilmu-ilmu empiris. Adapun alasannya yaitu azas pengetahuan teologi tidaklah terbatas pada pengalaman inderawi dan logika, sebagaimana halnya ilmu empiris.
Pengetahuan Teologi bersifat “Adi-kodrati“ artinya melebihi daya kodrat insani. Dengan demikian maka definisi teologi yang dapat diterima adalah “ Pengetahuan yang sistematis tentang Allah dan hubungannya dengan ciptaanNya seperti yang dipaparkan dalam Alkitab juga mencakup respon manusia terhadap inisiatif Allah dalam wahyuNya. Dimana respons tersebut dapat berwujud usaha-usaha untuk mengerti wahyu atau pernyataan Allah tentang manusia dan dunia serta bagaimana menerapkannya ke setiap bagian kehidupan dan pemikiran manusia. Maka Teologi Kristen berhubungan dengan usaha untuk mengerti Alkitab serta penerapannya ke dalam setiap bagian kehidupan dan pemikiran yang didasari oleh wahyu Allah yang diterima manusia dalam Iman.
3. Teologi pada umumnya
Teologi dapat didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan adikodrati yang objektif lagi kritis dan yang disusun secara metodis, sistematis dan koheren; pengetahuan ini manyangkut hal-hal yang diimani sebagai wahyu Allah atau berkaitan dengan wahyu itu.
A. Pengetahuan adikodrati.
Pengetahuan iman bersifat adikodrati karena didasarkan pada wahyu Allah yang mengatasi daya kemampuan insani. Sifat adikodrati ini tidak hanya berlaku bagi pengetahuan iman dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga bagi bentuknya yang ilmiah, yakni teologi. Kebenaran yang dicari oleh teologi, yang direnungkan dan diuraikan olehnya bukanlah kebenaran yang dapat dibuktikan secara empiris, bukan pula kebenaran yang dengan sendirinya jelas karena masuk akal, melainkan kebenaran yang diterima dalam iman berdasarkan wahyu Allah. Apa yang diwahyukan Tuhan itu diterima manusia dalam iman karena Tuhanlah yang menyatakannya. Manusia percaya kepada Tuhan itu.
B. Sifat-sifat ilmiah.
Sifat ilmiah teologi tampak dari cara si teolog mengadakan penyelidikannya. Secara metodis dicarilah kebenaran mana yang diwahyukan dan apa wahyu itu sebenarnya. Dan karena diadakan susunan dari kebenaran tersebut terdapatlah system. Teologpun mengusahakan objektifitas, sebab ingin mengenal dan mengetahui objeknya sebagaimana adanya dan bukan hanya sebagaimana dibayangkan oleh manusia, si subjek yang berteologi itu. Ini berarti bahwa teologi mau juga bekerja secara kritis. Sebab itu buktipun harus ada.
C. Objek material dan objek formal.
Sebagai ilmu iman, teologi mempelajari wahyu Allah. Maka objek material teologi ialah apa yang diwahyukan Allah. Akan tetapi isi iman seseorang tergantung pada agama yang dianut oleh orang yang bersangkutan. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa teologi pun berbeda-beda menurut agama yang dipeluk oleh orang yang mengadakan refleksi ilmiah atas imannya itu. Terdapat misalnya teologi Yahudi, yang merupakan refleksi ilmiah atas iman orang-orang yang beragama Yahudi.
4. HAL IMAN KRISTEN
Iman berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia adalah (1) Kepercayaan dan keyakinan kepada Allah, (2) Keteguhan hati, tetap pendirian.
Kata "iman" yang dipakai dalam Perjanjian Baru me­ru­pakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), Pengertian Iman di dalam Perjanjian Baru, Iman berarti mengamini dengan segenap kepribadian dan cara hidupnya kepada janji Allah, bahwa Ia di dalam Kristus telah mendamaikan orang dosa dengan diriNya sendiri, sehingga segenap hidup orang beriman dikuasai oleh keyakinan yang demikian itu. Maka Iman tidak tinggal pada kenyataan-kenyataan, tapi maju menuju percaya kepada satu Oknum yaitu Tuhan Yesus Kristus (Yoh 1 : 12; 3 : 16; Kis 16 : 31). Dimana Iman memberi kepastian tentang segala sesuatu yang tidak kelihatan (Ibrani 11:1).
Di dalam perjanjian Lama kata Iman berasal dari kata kerja aman
[3], yang berarti “ memegang teguh “. Kata ini dapat muncul dalam bentuk yang bermacam-macam, umpamanya dalam arti “ memegang teguh kepada janji “ seseorang, karena janji itu dianggap teguh atau kuat, sehingga dapat diamini, dipercaya. Jika dikaitkan dengan Tuhan Allah, maka kata Iman berarti, bahwa Allah harus dianggap sebagai Yang Teguh atau Yang Kuat. Orang harus percaya kepadaNya berarti harus mengamini Allah adalah Teguh atau kuat. Oleh karena itu, menurut Perjanjian Lama, beriman kepada Allah berarti mengamini, bukan hanya dengan akalnya, melainkan juga dengan segenap kepribadian dan cara hidupnya, kepada segala janji Allah yang telah diberikan dengan perantaraan firman dan karyaNya. Hal ini tampak di dalam hidup Abraham. Ia percaya atau mengamini janji-janji Allah, karena itulah ia pergi meninggalkan orang tua dan tanah airnya ke negeri yang ia sendiri belum mengetahuinya, untuk hidup seluruhnya di bawah naungan kuasa janji itu.
Oleh karena itu secara Teologis, Iman itu murni pemberian Allah. Adalah Allah yang dalam kemurahanNya, menyatakan FirmanNya Kepada Kita melalui wahyu, Inkarnasi, pengilhaman dalam penulisan Alkitab dan pernyataan untuk membawa kita mendengar FirmanNya dan menanggapi panggilanNya kepada pertobatan dan pengampunan dosa. Dimana Iman juga dapat diartikan sebagai komitmen total dan mempercayakan diri dalam kebenaran dan memiliki hidup persekutuan dengan Allah.
5. DASAR IMAN
Sebagaimana telah dikatakan , teologi memperoleh pengetahuannya bukan hanya berdasarkan pengalaman indera, pikiran akal budi dan instuisi rohani, tetapi juga dan terutama berdasarkan wahyu Allah. Wahyulah yang mendasari iman. Oleh karena itu teologi sebagai ilmu iman bersumberkan wahyu ilahi. Bagi pengetahuan teologis, wahyu merupakan sumber utama
[4].
Di dalam wahyu, Allah menyapa manusia, memperkenalkan diri-Nya kepada manusia dan mengajak manusia ikut serta dalam kehidupan Allah sendiri.
Tanggapan manusia yang diharapkan oleh Allah sebagai jawaban atas wahyu-Nya ialah iman kepercayaan sebagai penyerahan diri manusia kepada Allah pewahyu. Bila wahyu berarti Allah menyapa manusia, iman berarti bahwa manusia menjawab Allah secara positif.
Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa wahyu dan iman merupakan paham yang korelatif. Wahyu Allah mengharapkan, bahkan mengandaikan iman manusia, sebab wahyu yang tidak ditanggapi dengan iman, tidak mencapai sasarannya. Allah memperkenalkan diri kepada manusia demi untuk dikenal olehnya. Justru dengan menyerahkan diri kepada Allah, manusia mengenal Allah. Untuk tahu siapa Allah itu, orang harus dapat bergaul dengan Allah dari hati ke hati. Pergaulan ini berlangsung dalam iman kepercayaan yang merupakan anugerah Allah dan sekaligus tindakan manusia.
6. HAKIKAT WAHYU
Akal manusia tidak dapat menembus Tuhan yang Mutlak, yang trasenden itu. Akal hanya menunjuk kepada adanya perbedaan-perbedaan dan kepada adanya banyak benda. Oleh karena itu akal manusia menyesatkan. Dengan akalnya manusia tidak mungkin mengenal Tuhannya.
Alkitab dengan tegas menyatakan, bahwa tiada jalan dari pihak manusia kepada Tuhan Allah. Dari Alkitab dapat kita ketahui bahwa mula-mula bukan Israel yang mencari Tuhan Allah, melainkan sebaliknya, Tuhan Allahlah yang mencari Israel dan yang memperkenalkan atau menyatakan diriNya kepada umatNya.
Wahyu itu suatu fakta, karena pada kenyataan-Nya Allah memang telah ‘mewahyukan diri-Nya dan menyatakan rahasia kehendak-Nya” melalui Kristus. Kutipan ini mengandung jawaban atas pertanyaan apakah wahyu itu sebenarnya. Pada pokoknya, wahyu adalah komunikasi pribadi antara Allah yang transenden dengan manusia yang dibumi ini. Dengan kata lain: apa yang dimaksudkan dengan ‘wahyu’ menurut paham kristiani ialah bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya sendiri dan rencana penyelamatan-Nya. Menjelaskan hakikat wahyu ini, Bert Van Der Heijden SCJ mencatat: (yang dimaksudkan dengan wahyu Allah yaitu) bukan hanya bahwa Ia memberikan keselamatan (kebahagiaan penuh) kepada manusia , dan memberitahukan jalan menuju keselamatan, tetapi terutama Ia memperkenalkan diri-Nya sendiri”.
[5]
Jadi hakikat Wahyu terletak pada bahwa Allah yang tidak kelihatan itu, dari kepenuhan cinta KasihNya menganugrahkan diri kepada manusia, menyapa mereka, bergaul dengan mereka, bersekutu dengan mereka.
6.1 Wahyu: ALLAH Menyapa Manusia
Pengetahuan Teologi berbeda secara prinsipil dengan pengetahuan ilmu lainnya karena prinsip pengetahuannya bukan hanya pengalaman indrawi, akal budi dan intuisi rohani, tetapi juga wahyu dan iman. Dalam Wahyu Allah menyapa manusia; dalam Iman, manusia menanggapi sapaan Allah itu secara positif. Kalau demikian, wahyu dan Iman merupakan paham hubungan timbal balik
[6]. Di dalam Kitab Suci dipaparkan dua cara Allah mewahyukan diri, yakni secara umum melalui karyaNya sebagai pencipta semesta alam, dan secara khusus melalui karyaNya sebagai penyelamat umat manusia.
Wahyu khusus berlangsung dalam sejarah bangsa manusia dan memuncak dalam diri Yesus Kristus. Berdasarkan peranan pusat yang dipegang Yesus dalam proses pewahyuan, kita membedakan 2 fase atau tahap dalam sejarah keselamatan sebagai proses pewahyuan. Tahap pertama ialah wahyu dalam Perjanjian lama yang menyiapkan kedatangan Kristus. Tahap kedua ialah wahyu dalam Perjanjian Baru dan kekal, yakni wahyu dalam Yesus Kristus. Wahyu yang disebut “injili” ini mulai dengan penjelmaan Putera (atau: Sabda) Allah menjadi manusia, lalu diteruskan dalam seluruh kehidupan Yesus dibumi kita ini, dan akhirnya diselesaikan dalam peristiwa wafat-kebangkitan-kenaikan Yesus serta pengutusan Roh Kudus dan pendirian Gereja. Meskipun dalam diri Yesus sang Kristus wahyu itu sudah selesai, wahyu tidak berakhir melainkan berlangsung terus berkat kehadiran Tuhan yang Mulia (= yang telah bangkit dari alam maut) di dalam Gereja. Wahyu yang berlangsung terus dalam Gereja sebagai umat Allah yang baru, akan disempurnakan oleh wahyu di surga kelak, yang kini masih dinanti-nantikan .
6.1.1 Wahyu dalam Perjanjian Lama
“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta”. Menurut kutipan Surat Ibrani 1:1-2 tadi dalam Perjanjian Lama Wahyu Allah terjadi terutama melalui para nabi. Yang dinyatakan Tuhan, yaitu kehendakNya, kemahakuasaan, serta kemuliaan-Nya dan keadilan serta kerahimanNya
[7] :
KehendakNya diwahyukan Allah dalam hukum Taurat. Patut dicatat bahwa dalam Perjanjian Lama Wahyu selalu terarah kepada Praktik kehidupan : Apakah yang harus kulakukan ? (Ul 29 : 29; 30 : 15-20).
Mahakuasa dan muliaNya dinyatakan Allah dengan menjadikan langit dan bumi, Allah menyatakan diri sebagai Allah yang hidup, ketimbang ketakberdayaan berhala-berhala yang mati ( Yos 3 : 10; Ul 5 : 23; Mzm 95 : 5; Yes 40 : 12 – 26; 44 : 6 dst ).
Akhirnya Allah menyatakan diri sebagai Tuhan yang adil dan berbelas kasih, yakni dalam memilih, membimbing dan melindungi umatNya : “Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku (Kel 19 : 4) dan dalam memerintah dunia serta menguasai bangsa-bangsa : “ Beginilah firman TUHAN: "Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada Koresh yang tangan kanannya Kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya pintu-pintu gerbang tidak tinggal tertutup”. (Yes 45 : 1)

6.1.2 Wahyu dalam Perjanjian Baru
Adalah Wahyu dalam dan Oleh Yesus Kristus, Anak Allah (Mat 17 : 5) , sifatnya menjadi luar biasa karena Yesus menjadi satu-satunya pembawa Wahyu dalam arti yang sesungguhnya dan sepenuhnya, ini dapat kita lihat dalam Yoh 1 : 18 : “ Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya “.
Dan hal yang lebih hebat lagi dan indah bahwa semua peristiwa Yesus baik itu diriNya, KaryaNya dan SabdaNya saat ada di dunia ini menjadikan dirinya untuk ambil bagian sebagai “ Objek “ tunggal mengenai Wahyu kepada manusia (Yoh 14:9-11 );”…….Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; …….. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku;…......”. Pelaku Wahyu dalam arti yang sesungguhnya dan pertama adalah Allah yang dalam kedaulatan dan kebebasan kehendakNya yang mahakuasa, dalam kasih karuniaNya yang tak terhingga dan menurut hikmatNya yang beraneka ragam telah merancangkan rahasia keselamatan itu. Paulus mengartikan “ Wahyu “ adalah penyingkapan rencana Allah tentang keselamatan dalam Kristus (Rm 16:25-27) dan juga tentang penghakiman yang adil (Rm 2:5; 1 Kor 3:13). Terminologi yang dilakukan Paulus dalam hal ini yaitu rahasia yang dahulu tersembunyi ataupun didiamkan itu sekarang dinyatakan dan dengan demikian memberikan kebijaksanaan rohani.
Menyimpulkan pembahasan ini tentang wahyu dalam Alkitab, kita dapat mengatakan bahwa menurut Perjanjian Pertama, YHWH merupakan Dia yang hadir secara berkuasa dan Dia yang akan datang untuk membawa keselamatan; menurut Perjanjian Kedua, Allah merupakan Dia yang di dalam Yesus dari Nazaret bertindak secara eskatologis, artinya pada saat (kairos) sekarang ini dijatuhkanNya keputusan definitive tentang selamat tidaknya manusia sekedar kepercayaan dan ketaatan mereka kepada Kristus sebagai Juru Selamat.
[8]
7. IMAN : MANUSIA MENJAWAB ALLAH
Secara keagamaan, iman tentunya adalah pengetahuan akal dan hati yang mengindikasikan soal dasar dan menyeluruh dari jiwa dan pikiran manusia sebagai suatu keadaan dasar yang menentukan perilaku dan keberadaan manusia. Iman bukan semata-mata masalah pribadi, atau hanyalah keputusan yang bersifat pribadi yang tidak berhubungan dengan yang lainnya. Sebenarnya, dalam teologi Kristen, iman tidak dapat dianggap hal pribadi atau hasil dari pikiran, emosi atau keinginan pribadi; sebaliknya iman berasal dari Allah dan wahyu Allah. Jadi dalam hal ini Iman adalah tanggapan atau pernyataan tanggapan, ketika seseorang merenungkan Allah serta karya dan penyataan-Nya. Secara sederhana, sifat positif dari tanggapan seperti itu disebut "iman," sedangkan sifat negatifnya disebut "ketidakpercayaan" atau "kepercayaan jahat atau sesat."
Allah telah menyatakan dan memperkenalkan diriNya maka sudah barang tentu mengharapkan adanya tanggapan positif dari pihak yang disapanya. Maka itu Tuhan pewahyu yang menyatakan diri kepada manusia, tentunya berharap agar manusia dengan senang dan penuh syukur menerima pewahyuan diri Allah itu dan menjawabnya dengan menyerahkan diri pula kepada Allah pewahyu. Jawaban positif atas wahyu itu disebut "iman kepercayaan".
7.1 Iman menurut Perjanjian Lama
Dalam Kitab Suci, wahyu pertama-tama berarti: Allah "berbicara". Pembicaraan Allah itu khususnya terjadi melalui peristiwa sejarah umat-Nya. Makna peristiwa itu diartikan dan dimaklumkan oleh para nabi. Oleh karena itu dalam Perjanjian Lama iman sebagai sikap manusia yang menanggapi wahyu Allah itu dilukiskan sebagai berikut.
Pertama, iman berarti mendengarkan sabda Allah. Allah menghubungi manusia melalui sabda-Nya yang bersifat wahyu. Dalam menghadapi sabda pewahyuan Allah itu, manusia harus bersikap "men­dengarkan" dulu. Ketika Allah memanggilnya, Samuel menjawab: "Berbicaralah, hamba-Mu mendengarkan" (1 Sam 3:10). Akan tetapi tidaklah cukup kalau manusia hanya mendengarkan secara fisik dan pasif. Yang perlu ialah mendengarkan dengan kehendak yang aktif. Oleh karena itu beriman berarti: menaati perintah Allah. Sekali sabda didengarkan, sabda itu perlu diresapkan ke dalam hati dengan suatu penyerahan diri yang total. Iman berarti ketaatan.
Kedua, sikap "taat dan patuh" ini diperlihatkan dengan cemerlang oleh "bapak semua orang beriman", yaitu Abraham, model iman yang sempurna. Setelah Tuhan memerintahkan kepadanya supaya pergi dari negeri dan dari familinya menuju negeri yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya, "pergilah Abraham seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya" (Kej 12:1. 4a). Reaksi Abraham berupa kepatuhan budi yang dijelmakan dalam kepatuhan tingkah-laku. Memang tanggapan yang demikianlah yang dituntut Tuhan dari orang yang percaya kepada-Nya. "Apakah yang dituntut Tuhan dari padamu" tanya nabi Mikha, "selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?'' (Mi 6:8).
Orang yang telah mendengarkan sabda Tuhan dan menaati perintah-Nya, harus tetap setia dalam melaksanakan kehendak Allah.
· Kesetiaan itu unsur ketiga dalam paham iman menurut Perjanjian Lama. Dengan setia, orang beriman harus hidup sesuai dengan tuntutan Perjanjian. Demikianlah ajaran para nabi turun-temurun (selain Mi 6:8 tadi, lih. Juga Hos 6:6, Yer5:l-9; 9:2-5; 22:15). Dalam situasi yang terus berubah-ubah. manusia harus memperbaharui kesetiaannya kepada YHWH.
Akhirnya beriman dalam Perjanjian Lama berarti juga menaruh percaya pada janji Allah. Dalam P.L, wahyu mendapat bentuk konkret dalam hukum Taurat dan dalam janji keselamatan. Itulah sebabnya iman umat sebagai jawaban atas wahyu Allah itu memperoleh bentuk yang nyata bukan hanya dalam ketaatan dan kesetiaan, tetapi juga dalam kepercayaan akan genapnya janji. Ketika Allah menjanjikan keturunan besar kepada Abraham, "percayalah Abraham kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran" (Kej 15:6).
7.2 Iman Menurut Perjanjian Baru
Dalam diri Maria, iman Perjanjian Lama memuncak menjadi kepatuhan hamba Tuhan yang total (Luk 1 :38), menjadi kepercayaan seorang wanita yang kepadanya Allah telah melakukan perbuatan besar, karena Allah itu setia pada janjiNya (Luk 1:46-55). Dalam pemberitaan dan pekerjaan Yesus mengaktifkan janji-janji itu dan sekaligus menaruh tanda-tanda yang membuat janji tersebut menjadi tindakan berjanji yang sifatnya definitive dan eskatologis.
Injil Sinoptik menampilakan Yesus mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah yang diambang pintu. Orang diajakNya supaya bertobat dan percaya injil (Mark 1:15). Reaksi yang tepat dari pihak orang-orang yang diberi pewartaan ialah percaya sebab dengan demikian mereka dibawa masuk ke dalam persekutuan Roh yang terdapat antara Bapa dan Anak.
Dalam Injil Sinoptik, tindakan “Percaya” mempunyai arti sebagai berikut.
[9]
· Mendengar pada apa yang diwartakan (Mrk 4:9).
· Mengerti atau memahami apa yang didengar itu (Mat 13:19).
Maksudnya menerima sabda pewartaan secara positip dan melaksanakannya dalam hidup harian (Mrk 4 : 20; Luk 8:21; 11:28)
· Tidak membatasi pelaksanaan Firman itu menjadi satu dua kali saja melainkan selalu dan dimana-mana sehingga terbinalah sikap batin untuk membiasakan diri melaksanakan sabda. Berbalik kepada Allah secara lahir batin, secara total dengan segenap pribadinya itulah bertobat sebagai unsure hakiki dari iman kepercayaan (Mat 1:15 ; 4:17).
Para Rasul menerima pewartaan Yesus dengan percaya, lalu mereka dipercayakan sendiri oleh Yesus yang telah bangkit itu untuk meneruskan pewartaanNya tentang kabar gembira keselamatan (Mrk 16:15-16; Mat 28:19-20). Awal pewartaan Injil oleh rasul-rasul Yesus dikisahkan dalam Kisah Para Rasul. Dalam kitab ini, iman dilukiskan sebagai sikap batin yang menyeluruh, artinya sikap itu melibatkan manusia seluruhnya pula. Maka iman diyakini sebagai anugerah itu menurut Kisah Para Rasul adalah sikap taat dan melekat kepada Kristus secara Total dan Mutlak (Kis 3:16; 9:42; 11:17; 16:31). Dengan lebih tegas lagi Injil Yohanes menghadapkan orang pada pilihan : menjawab pewahyuan Allah dalam pribadi Yesus Kristus itu dengan suat YA yang total kepada Yesus atau dengan suatu TIDAK yang total, percaya atau tidak.
Menyimpulkan pembahasan tentang Iman dalam Alkitab, kita dapat mengatakan bahwa jika dipandang dari segi manusia, iman dapat disebut : tindakan manusia di dalam mengulurkan tangannya untuk menerima panggilan Tuhan Allah (respon) atau menerima berita kabar baik yang ditawarkan oleh Tuhan Allah sehingga keselamatan yang berasal dari Kasih Karunia Allah menjadi kenyataan di dalam hidupnya. Akan tetapi jika dipandang dari segi Tuhan Allah Iman sebenarnya adalah pemberian anugerah Allah sebab iman berdasarkan kuasa kasih karunia Allah yang membaharui segala sesuatu(Ef. 2:8; Flp 1:29). Hal ini memang tidak mengherankan sebab baik iman maupun pertobatan, keduanya adalah pengungkapan atau pertumbuhan dari kelahiran kembali.
8. KESIMPULAN
Teologi dan Iman merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Begitu banyak pandangan dan pendapat mengenai Teologi. Begitu luas Teologi itu untuk dijabarkan karena sumbernya yang tidak terhingga, sehingga perkembangannyapun sampai dengan saat ini masih terus berlangsung tidak pernah berhenti selalu ada yang baru mengenai Teologi. Teologi menjadi potongan-potongan “puzzle” dimana tiap potongan “puzzle” tersebut mempunyai arti dan warna tersendiri. Tiap potongan “puzzle” saling terkait satu dengan yang lain hanya untuk menjelaskan sebagian dari Kemuliaan Tuhan. Begitu luasnya teologi itu untuk dikaji mengundang setiap manusia yang menggalinya terlewat sampai batas menuju untuk tidak percaya kepada Teologi itu sendiri, jika hal ini terjadi maka Iman berfungsi untuk menahan hal tersebut. Jadikan Iman sebagai dasar berpikir untuk masuk dalam keilmuan Teologi, jadikan Iman sebagai Frame atau bingkai dalam menggali Teologi sebagai bidang keilmuan bagi Kemuliaan Tuhan Allah Bapa di Surga
DAFTAR PUSTAKA
· ALKITAB
· Dr. Nico Syukur Dister, OFM, TEOLOGI SISTEMATIKA 1, 2004 Penerbit Kanisius
· Dr. Nico Syukur Dister, OFM, Pengantar Teologi, 1991 Penerbit Kanisius, BPK Gunung Mulia
· Daniel Lucas Lukito,M.Th, Pengantar Teologia Kristen, 1996 Yayasan Kalam Hidup
· Kenneth E. Hagin, Iman Yang Sejati, 2003 Immanuel
· Dr. J.L.Ch.Abineno, Pokok-Pokok Penting Dari Iman Kristen, 2003 BPK Gunung Mulia
· Derek Prime, Tanya Jawab tentang Iman Kristen, 2006 Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF
· Dr. Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 2006 BPK Gunung Mulia
· Paul Enns, The Moody Handbook of Theology, 2006 Literatur SAAT
· Prof.Dr.J.S. Badudu, Prof. Sutan Mohammad Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1996 Pustaka Sinar Harapan.
· Eko Endarmoko, Tesaurus Bahasa Indonesia, 2006 PT. Gramedia Pustaka Utama.
[1] buku karangan Dr.J.L.Ch.Abineno POKOK-POKOK PENTING DARI IMAN KRISTEN hal 2.

[2] Buku karangan Daniel Lucas Lukito, M.Th, PENGANTAR TEOLOGIA KRISTEN hal 17
[3] Buku karangan Dr. Harun Hadiwijono, IMAN KRISTEN hal 17
[4] Buku karangan DR. Nico Syukur Dister OFM, PENGANTAR TEOLOGI hal 85
[5] Buku karangan DR. Nico Syukur Dister OFM, PENGANTAR TEOLOGI hal 88
[6] Buku karangan DR. Nico Syukur Dister, OFM TEOLOGI SISTEMATIKA 1 hal 40
[7] Buku karangan DR. Nico Syukur Dister, OFM TEOLOGI SISTEMATIKA 1 hal 42
[8] Buku karangan DR. Nico Syukur Dister, OFM TEOLOGI SISTEMATIKA 1 hal 52
[9] Buku karangan DR. Nico Syukur Dister, OFM TEOLOGI SISTEMATIKA 1 hal 70


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com and Wedding Dresses. Powered by Blogger